Sementara itu, penulis dan aktivis perempuan Kalis Mardiasih mengajak peserta untuk berani bersuara melalui tulisan, tanpa harus menunggu merasa sempurna.
“Menulis bukan soal siapa paling pintar, tapi siapa yang berani bercerita. Keberanian itu sudah menjadi langkah awal perubahan,” tutur Kalis Mardiasih.
Ketua Suara Inklusi Kendal, Aslamiah, menjelaskan bahwa Jagongan Sinok lahir dari kegelisahan pribadinya saat melihat perbedaan ruang diskusi perempuan di Kendal dan Yogyakarta.
“Selama delapan tahun saya tinggal di Jogja, saya menemukan banyak ruang diskusi yang sangat berdampak bagi perempuan. Dari situ saya bertanya, kenapa di Kendal belum ada ruang serupa,” ungkap Aslamiah.
Ia menambahkan, Jagongan Sinok tidak dirancang sebagai kegiatan sekali selesai, melainkan bagian dari proses pendampingan berkelanjutan.
“Kegiatan ini akan diikuti dengan mentoring dan ruang diskusi lanjutan, disesuaikan dengan kebutuhan peserta,” ujarnya.
Di akhir, Aslamiah berharap Jagongan Sinok mampu menjadi pemantik agar isu perempuan dan inklusivitas semakin terbuka dibicarakan di Kendal.
“Harapannya, isu perempuan dan kelompok marginal tidak lagi dianggap tabu, tapi dipahami sebagai persoalan sosial yang perlu dibicarakan bersama,” pungkasnya.