Presiden Pelataran Sastra Kaliwungu, Bahrul Ulum Amalik, mengatakan buku ini ditulis oleh penulis lintas disiplin. Kaliwungu, menurutnya, dipotret dari sudut pandang sejarah, sosial, budaya, hingga perubahan ruang yang terjadi dari waktu ke waktu.
Salah satu penulis, Mujib Rohmat, mengapresiasi keterlibatan aktivis, budayawan, dan ulama dalam proses penulisan buku tersebut. Ia menilai buku ini sebagai wujud kontribusi masyarakat dalam pembangunan daerah melalui jalur kebudayaan.
“Ini adalah catatan tentang Kaliwungu yang ditulis dari beragam latar belakang, mulai akademisi, aktivis, budayawan, hingga santri,” katanya.
Ia juga menyambut baik dukungan Pemerintah Kabupaten Kendal terhadap penguatan literasi daerah, termasuk riset sejarah lokal dan pengembangan ekosistem penerbitan.
“Tanpa identitas lokal, pembangunan akan kehilangan pijakan dan arah,” pungkasnya.***