Dari sisi sajian, Qulhu Kopi menghadirkan beragam varian kopi Arabika dan Robusta yang bersumber dari petani lokal serta jejaring santri. Salah satunya Arabika Sukorejo yang masih berada dalam lingkar komunitas pesantren.
“Kami ingin kopi yang disajikan punya nilai keberlanjutan, bukan hanya soal rasa,” jelas Ardan.
Pengasuh Pondok Pesantren Ndalem Wongsorogo, Yai Iben Mudaffar atau Gus Paux Iben, menilai keberadaan warung kopi memiliki makna sosial yang kuat.
“Warung kopi itu ruang pertemuan. Dari obrolan santai sering lahir gagasan-gagasan besar,” tuturnya.
Sementara itu, Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, menekankan pentingnya ruang diskusi yang berakar pada budaya dan literasi.
“Kedai kopi seperti ini bisa menjadi ruang lahirnya pemikiran yang berpijak pada nilai Nusantara,” ucapnya.
Ke depan, Qulhu Kopi diharapkan menjadi ruang terbuka yang mendorong dialog lintas generasi, memperkuat literasi, serta menjadi simpul interaksi sosial di tengah masyarakat Kendal.
“Qulhu Kopi kami niatkan sebagai ruang tumbuh, tempat kopi menjadi pintu masuk bagi gagasan dan perubahan,” pungkasnya.