"Kondisi jalan yang sering terendam rob menyebabkan akses warga terganggu dan membutuhkan perhatian khusus. Data Indeks Desa menunjukkan persoalan aksesibilitas memang masih menjadi pekerjaan rumah di wilayah tersebut," jelas Friendy.
Sementara itu di Desa Timbulsloko, tantangan yang dihadapi tidak jauh berbeda. Jalan yang dibangun sering mengalami kerusakan karena terus terpapar banjir rob, sehingga diperlukan model pembangunan yang lebih sesuai dengan karakter wilayah pesisir.
"Wilayah pesisir memiliki tantangan tersendiri. Karena itu pembangunan tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Harus ada solusi yang berkelanjutan agar hasil pembangunan bertahan lebih lama," tambahnya.
Kegiatan yang melibatkan pemerintah desa, BPD, pendamping desa, hingga unsur pemerintah daerah itu mendapat respons positif dari peserta. Mereka menilai penggunaan data Indeks Desa dapat membantu menentukan prioritas pembangunan secara lebih objektif.
"Hasil dari uji coba ini akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan kebijakan. Harapannya, model perencanaan berbasis data ini bisa diterapkan lebih luas sehingga Dana Desa benar-benar menjadi instrumen efektif untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa," pungkas Friendy.