opini

Ironisnya Gajah Sumatra Kehilangan Habitat tetapi Masih Dikerahkan Membantu Manusia

Senin, 15 Desember 2025 | 10:03 WIB




Namun risiko-risiko ini jarang menjadi bagian dari narasi ketika publik membagikan foto-foto heroik mereka.Bencana yang Tidak Lagi Alami SepenuhnyaBanjir dan longsor memang merupakan bagian dari siklus alam, tetapi skala dan intensitas yang terjadi belakangan ini menunjukkan kontribusi manusia yang sangat besar. Hutan yang gundul membuat tanah kehilangan kekuatan mengikat air. Sungai yang dipersempit membuat aliran air tak lagi stabil. Semua kondisi ini memperparah dampak bencana dan mempercepat kerusakan.Ketika bencana terjadi, yang paling terpukul bukan hanya manusia, tetapi juga satwa liar.





Mereka kehilangan tempat berlindung, sumber makanan hilang, dan wilayah jelajah berubah menjadi kawasan berbahaya. Gajah yang tertimbun longsor itu hanyalah satu dari banyak bukti bahwa alam sudah memberi sinyal kuat namun belum sepenuhnya didengar.Belajar tentang Kemanusiaan yang Lebih LuasDi sinilah nilai kemanusiaan seharusnya berbicara.





Bukan hanya tentang hubungan antar manusia, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan makhluk lain dan lingkungan yang menopang kehidupan semua pihak. Kemanusiaan yang sejati mencakup rasa empati, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang mengambil, tetapi juga merawat.Gajah-gajah yang diturunkan ke medan berat itu bukan sekadar tenaga tambahan. Mereka adalah simbol dari apa yang salah dalam hubungan manusia dengan alam. Kita terlalu sering meminta mereka beradaptasi dengan dunia yang kita rusak, alih-alih memperbaiki perilaku kita sendiri.Menghargai kehidupan gajah bukan hanya urusan konservasi, tetapi soal moral.





Soal bagaimana kita menempatkan diri sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang seenaknya. Saatnya Manusia PeduliFoto-foto gajah bekerja setelah bencana memang menyentuh hati. Tapi di balik itu, ada pesan yang jauh lebih penting, beberapa bagian dari pekerjaan itu seharusnya tidak perlu dilakukan jika kita menjaga alam dengan benar.Gajah telah kehilangan banyak. Mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, keamanan, dan bahkan anggota kelompok.





Jika setelah semua itu mereka masih harus membantu membersihkan kekacauan manusia, maka ada yang harus diubah.Manusia perlu bekerja lebih keras bukan hanya saat bencana, tetapi sejak sebelum bencana itu terjadi. Menjaga hutan, menghiasinya kembali dengan pohon, melindungi jalur jelajah satwa, dan membangun kehidupan yang berdampingan, bukan saling menekan. Upaya seperti penetapan koridor satwa, perlindungan kawasan hutan tersisa, moratorium pembukaan lahan di wilayah jelajah gajah, serta mitigasi bencana berbasis ekologi harus menjadi agenda nyata, bukan sekadar wacana.Karena pada akhirnya, jika alam terus dirusak, kita bukan hanya merusak rumah gajah.Kita sedang merobohkan rumah kita sendiri.***





Penulis: Ana Hidayah Lestari






Halaman:

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB