Pada akhirnya, baik disebut Gerakan Ayah Mengantar Anak maupun Gerakan Ayah Mengambil Rapor, substansinya tetap sama: negara sedang mempromosikan satu model keluarga sebagai yang paling sah secara simbolik. Pertanyaannya bukan lagi apakah peran ayah penting. Pertanyaan yang lebih jujur dan politis adalah: siapa yang paling rentan ketika negara merayakan kehadiran tanpa mengakui ketidakhadiran?
Jawabannya jelas. Anak-anak dari keluarga yang telah rapuh sejak awal: anak yatim, anak korban bencana di Sumatra, anak buruh migran, serta anak dari ibu tunggal yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Mereka tidak dihukum secara administratif, tetapi mengalami hukuman simbolik. Dipaksa menjelaskan absennya orang lain. Dipaksa belajar terlalu dini bahwa negara lebih ramah pada keluarga yang utuh di atas kertas.
Di titik ini, negara tidak lagi dapat bersembunyi di balik kata “anjuran”. Karena anjuran dari otoritas tetap merupakan bentuk pengaturan. Jika kebijakan ini benar-benar ingin berpihak pada kepentingan terbaik anak, maka ia harus dimulai dari pengakuan atas kerentanan, kehilangan, dan ketimpangan sosial, bukan sekadar memoles figur ayah ideal.
Tanpa koreksi mendasar, GEMAR berisiko menjadi kebijakan yang memuji mereka yang mampu dan melukai mereka yang telah lebih dulu jatuh. Dan seperti yang kerap terjadi, ibu tunggal kembali berdiri sendirian di ruang sekolah, menegakkan tubuhnya sambil menanggung pertanyaan yang seharusnya dialamatkan kepada negara.
Penulis : Emma Wijaya
Editor : Danang Afi