opini

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB


Opini, Inspiratifonline.com - Banjir yang merendam sedikitnya enam kecamatan di Kabupaten Kendal akibat meluapnya Sungai Waridin bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Air yang masuk ke rumah warga, memaksa evakuasi, melumpuhkan jalan utama, dan menghentikan aktivitas ekonomi adalah akumulasi panjang dari relasi manusia dengan alam yang dibiarkan timpang. Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu, tetapi sebab sesungguhnya berada lebih dalam: sungai yang dangkal, drainase yang tersumbat, daerah resapan yang menyusut, serta infrastruktur mitigasi yang rapuh dan setengah hati.

Ironisnya, bencana ini hadir beriringan dengan peringatan Isra Mi’raj, sebuah peristiwa spiritual tentang kenaikan, kedisiplinan, dan amanah manusia. Kontras ini sulit diabaikan: langit dirayakan, sementara bumi ditelantarkan.

Isra Mi’raj bukan sekadar kisah transendental, melainkan pengingat bahwa kedekatan dengan Tuhan selalu menuntut tanggung jawab etis di dunia. Shalat yang diperintahkan dalam peristiwa itu adalah simbol keteraturan: mengelola waktu, ruang, dan kesadaran. Namun di Kendal, keteraturan justru runtuh pada level kebijakan dan tata kelola lingkungan. Sungai kehilangan daya tampungnya, drainase gagal mengalirkan air, dan sistem mitigasi bencana berjalan reaktif, hadir setelah air terlanjur naik.





Baca juga: Cinta, Kebohongan, dan Risiko yang Tidak Pernah Dipilih Perempuan





Persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari eksploitasi alam, terutama aktivitas galian C. Penambangan pasir, batu, dan tanah yang mengubah bentang alam secara masif telah merusak struktur tanah, mempercepat sedimentasi sungai, dan melemahkan kawasan penyangga air. Galian C bukan sekadar lubang di tanah; ia adalah intervensi permanen terhadap sistem ekologis. Ketika hujan deras datang, sungai yang dangkal dan alur air yang rusak tak lagi mampu menahan debit. Air pun mencari jalannya sendiri: ke rumah warga, ke jalan raya, ke ruang hidup masyarakat yang justru tak pernah menikmati keuntungan dari eksploitasi tersebut.





Pada titik ini, banjir tidak lagi bisa disebut musibah semata. Ia adalah konsekuensi dari keputusan manusia: dari izin yang dikeluarkan, dari pengawasan yang lemah, dan dari pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun. Drainase yang tersumbat sampah dan sedimentasi, normalisasi sungai yang dilakukan setengah hati, serta lemahnya penindakan terhadap aktivitas tambang menunjukkan kegagalan kolektif dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan.





Isra Mi’raj seharusnya menjadi momentum koreksi, bukan sekadar seremoni. Namun yang kerap terjadi, peringatan itu berhenti di mimbar, spanduk, dan unggahan media sosial. Doa dipanjatkan, tetapi lubang-lubang galian tetap menganga. Ceramah tentang amanah terdengar lantang, sementara kebijakan yang merusak daya dukung alam terus berjalan. Dalam situasi semacam ini, agama berisiko direduksi menjadi penghibur, bukan daya gugah terhadap ketidakadilan struktural dan krisis ekologis.





Baca juga: GEMAR BKKBN: Peran Ayah dan Tantangan Keluarga Tidak Utuh





Padahal, pesan Isra Mi’raj justru menuntut keberanian untuk menyatukan langit dan bumi. Kedekatan spiritual semestinya melahirkan keberpihakan nyata: pembenahan tata ruang, pembersihan dan penataan drainase, penguatan infrastruktur mitigasi banjir, serta penghentian eksploitasi alam yang merusak. Tanpa itu, setiap perayaan hanya menjadi ironi tahunan: dirayakan di masjid, tetapi ditenggelamkan di halaman rumah sendiri.


Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB