Kita seperti rajin menghitung suara perempuan, tapi belum serius mendengar isinya.
Demokrasi seharusnya bukan hanya soal berapa banyak yang memilih, tetapi siapa saja yang diberi ruang untuk menentukan arah. Kalau perempuan hanya dibutuhkan saat pemilu, itu bukan partisipasi. Itu sekadar strategi.
Selama ruang keputusan masih terasa sempit bagi pengalaman dan peran perempuan yang nyata, pertanyaan ini akan terus muncul: apakah kita benar-benar ingin melibatkan perempuan, atau hanya membutuhkan suaranya?
Penulis: Emma Wijaya
Editor: Danang Afi