opini

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB



Kita seperti rajin menghitung suara perempuan, tapi belum serius mendengar isinya.





Demokrasi seharusnya bukan hanya soal berapa banyak yang memilih, tetapi siapa saja yang diberi ruang untuk menentukan arah. Kalau perempuan hanya dibutuhkan saat pemilu, itu bukan partisipasi. Itu sekadar strategi.





Selama ruang keputusan masih terasa sempit bagi pengalaman dan peran perempuan yang nyata, pertanyaan ini akan terus muncul: apakah kita benar-benar ingin melibatkan perempuan, atau hanya membutuhkan suaranya?





Penulis: Emma Wijaya





Editor: Danang Afi


Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB