opini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB



Hal yang sama saya rasakan ketika membahas DTKS, desil kesejahteraan, hingga pemutakhiran data sosial. Warga diminta memastikan datanya benar. Memperbarui informasi. Mengecek desil. Mengurus administrasi. Mengajukan keberatan. Mengulang lagi. Lalu mengulang lagi. Saya tidak sedang mengatakan bahwa pendataan itu tidak penting. Justru sebaliknya. Data adalah fondasi kebijakan publik. Tetapi saya bertanya, mengapa mereka yang hidupnya paling rentan justru menjadi pihak yang paling sibuk mengejar sistem? Bukankah negara memiliki aparatur? Memiliki anggaran? Memiliki teknologi? Mengapa warga miskin harus terus membuktikan bahwa dirinya miskin? Mengapa warga harus terus meyakinkan negara bahwa mereka benar-benar ada?





Ironi terbesar bukanlah ketika data salah. Ironi terbesar adalah ketika kesalahan data dianggap sebagai masalah warga. Padahal data adalah instrumen negara.





Belakangan muncul pula penolakan terhadap sensus ekonomi. Saya tidak buru-buru menyebutnya sebagai bentuk ketidakpatuhan. Saya justru melihatnya sebagai gejala yang layak dibaca lebih dalam. Kepercayaan publik tidak lahir karena negara meminta data. Kepercayaan lahir ketika warga percaya bahwa data yang mereka berikan akan kembali kepada mereka dalam bentuk kebijakan yang adil. Jika warga berkali-kali diminta membuka seluruh kehidupannya, sementara pelayanan publik masih terasa jauh, maka yang sedang mengalami krisis bukan sekadar administrasi. Melainkan legitimasi.





Negara modern hidup dari data. Tetapi negara demokratis hidup dari kepercayaan. Dan kepercayaan tidak pernah bisa dipaksa.





Saya seorang ibu tunggal. Tetapi jangan salah mengerti. Menjadi ibu tunggal bukan berarti meminta dikasihani. Kami bekerja. Kami berdagang. Kami memasak. Kami menerima pekerjaan apa pun yang bisa menjaga dapur tetap mengepul. Kadang hasilnya hanya cukup untuk bertahan sampai malam. Besok pagi perjuangan dimulai lagi. Dan kami tetap menjalaninya. Karena bertahan bukanlah tanda kelemahan. Ia adalah bentuk keberanian yang paling sunyi. Yang kami perlukan bukan rasa iba. Yang kami perlukan adalah negara yang bekerja sebagaimana mestinya. Negara yang melihat warga sebagai pemegang hak. Bukan sebagai pemohon.





Kita sering diajarkan bahwa Tuhan membagi nasib manusia secara berbeda. Saya tidak sedang memperdebatkan keyakinan itu. Yang saya pertanyakan adalah mengapa setiap kali ketidakadilan terjadi, langit selalu lebih dulu disalahkan daripada kebijakan di bumi. Mengapa kita begitu mudah berkata, "Memang nasibnya." Padahal anggaran disusun oleh manusia. Data dikelola oleh manusia. Kebijakan dibuat oleh manusia. Distribusi sumber daya diputuskan oleh manusia. Lalu mengapa ketimpangan selalu disebut takdir? Mungkin karena menyalahkan langit jauh lebih nyaman daripada mengevaluasi cara kita mengelola bumi.





Negara tidak membutuhkan warga yang pandai Negara membutuhkan birokrasi yang mampu mengenali hak setiap warga tanpa membuat mereka kehilangan martabat. Sebab ketika hak harus dimohonkan berulang kali, yang perlahan hilang bukan hanya akses terhadap pelayanan. Melainkan keyakinan bahwa negara benar-benar berdiri di pihak rakyatnya. Dan ketika keyakinan itu mulai retak, pertanyaan yang tersisa bukan lagi, "Mengapa warga terus meminta?" Melainkan, mengapa negara membuat hak terasa seperti hadiah?






Emma Wijayanti
Kendal, 7 Juli 2026

Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB