• Selasa, 22 September 2026

Ketika Lamaran Berubah Menjadi Malapetaka : Review Novel Ritual Satu Suro karya Andika Reynaldo

Photo Author
Danang Afi, InspiratifOnline.com
- Rabu, 24 Desember 2025 | 04:15 WIB


Opini, Inspiratifonline.com - Ada kisah horor yang bekerja lewat teriakan. Ada pula yang memilih berbisik pelan, dingin, dan justru menetap lebih lama di benak. Ritual Satu Suro berada di jalur kedua. Novel ini tidak sekadar menakut-nakuti, melainkan mengajak pembaca menyusuri ruang gelap yang sering kita abaikan: kekerasan, trauma, dan rahasia yang diwariskan oleh masa lalu.





Cerita dibuka dengan lanskap desa di kaki gunung, lengkap dengan perkebunan teh yang hijau dan udara pagi yang menenangkan. Andika Reynaldo memanfaatkan keindahan alam sebagai kontras tajam, seolah mengingatkan bahwa horor kerap tumbuh subur justru di tempat yang tampak paling damai.





Tokoh utama, Sedar Ayu, digambarkan sebagai gadis desa dengan hidup yang sederhana. Hubungannya dengan Bowo Pamuji, kekasih yang telah delapan bulan bersamanya, menghadirkan nuansa romansa yang hangat. Adegan lamaran di tengah perkebunan teh menjadi titik puncak kebahagiaan sekaligus ironi, karena kebahagiaan itulah yang kemudian runtuh dalam waktu singkat.





Baca Juga : Horor yang Bertahan Sepuluh Tahun: Review Tumbal Pitung Dino





Novel ini tidak menjadikan kekerasan sebagai tontonan. Peristiwa tragis yang menimpa Sedar disampaikan secara implisit dan berjarak, cukup untuk mengguncang emosi tanpa mengeksploitasi penderitaan. Pilihan ini patut dicatat, karena banyak karya horor terjebak pada sensasi, sementara Ritual Satu Suro justru memilih empati sebagai pintu masuk ketakutan.





Yang membuat cerita ini menarik adalah lapisan misterinya. Tragedi yang dialami Sedar tidak berdiri sendiri. Ada bayang-bayang masa lalu Bowo. Kebakaran pabrik teh yang merenggut nyawa orang tuanya yang perlahan diseret ke permukaan. Di titik ini, horor tidak lagi bersifat personal, melainkan struktural: tentang dendam, rahasia desa, dan kemungkinan adanya tangan-tangan tersembunyi yang bekerja di balik tragedi.





Sebagai novel horor, Ritual Satu Suro tidak hanya mengandalkan suasana mencekam. Ia juga menyentuh tema sosial: kerentanan perempuan, pembiaran, dan bagaimana sebuah komunitas bisa memilih diam. Ketakutan terbesar dalam cerita ini bukan semata sosok gaib atau ritual mistis, melainkan manusia dan pilihan-pilihannya.


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Danang Afi

Rekomendasi

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB
X