Opini, Inspiratifonline.com - Ada sebuah rumah tua.
Dibangun bukan oleh satu tangan, tapi oleh ratusan niat baik.
Dindingnya dari doa, tiangnya dari sabar, atapnya dari waktu.
Rumah itu terlalu besar untuk dimiliki satu keluarga.
Terlalu lapang untuk dikunci oleh satu tafsir.
Ia berdiri karena orang-orang di dalamnya rela mengalah agar yang lain tetap teduh.
Akhir-akhir ini, rumah itu ramai.
Bukan karena pesta.
Bukan karena syukuran.
Tapi karena penghuninya saling menunjukkan denah, sambil berkata:
“Menurutku, pintu harus di sini.”
“Tidak, menurutku di sana.”
Padahal yang di luar hanya ingin berteduh.
Tak peduli pintunya di mana, asal bisa masuk tanpa dimarahi.
Sebagian penghuni sibuk membuka buku aturan.
Sebagian lain memegang surat amanah lama.
Keduanya sama-sama merasa benar.
Keduanya lupa bahwa rumah ini dulu dibangun bukan oleh pasal,
melainkan oleh kepercayaan.
Di ruang tengah, suara makin meninggi.
Padahal rumah tua tidak suka teriakan.
Ia retak pelan-pelan, bukan karena dibenci,
tapi karena terlalu sering ditarik ke dua arah.
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana tapi tajam: