“Yang paling berbahaya dari kebenaran adalah ketika ia tidak disertai kasih sayang.”
Di titik itulah kebenaran kehilangan fungsinya sebagai cahaya,
dan berubah menjadi alat saling melukai.
Orang-orang bijak dulu mengajarkan:
kalau kau mencintai rumahmu, jangan berdiri di atap sambil berdebat.
Turunlah ke lantai.
Duduklah.
Dengarkan napas satu sama lain.
Yang sedang terjadi barangkali bukan soal siapa paling sah memegang kunci,
tapi siapa yang paling lupa bahwa kunci itu bukan untuk dipamerkan,
melainkan untuk membuka pintu bagi mereka yang kedinginan.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan cara yang sangat membumi, pernah berkata:
“Tidak penting apa agamamu atau apa organisasimu.
Kalau kamu tidak bisa berbuat baik kepada sesama,
maka semua itu tidak ada artinya.”
Kalimat itu tidak sedang meremehkan rumah,
justru sedang menyelamatkannya dari kesombongan penghuninya sendiri.
Rumah besar ini tidak butuh pemenang.
Ia butuh penjaga.
Penjaga yang rela tidak disebut namanya,
asal lampu tetap menyala dan tikar tetap terbentang.