opini

Rumah yang Terlalu Besar untuk Diteriaki

Rabu, 17 Desember 2025 | 05:18 WIB




“Yang paling berbahaya dari kebenaran adalah ketika ia tidak disertai kasih sayang.”






Di titik itulah kebenaran kehilangan fungsinya sebagai cahaya,
dan berubah menjadi alat saling melukai.





Orang-orang bijak dulu mengajarkan:
kalau kau mencintai rumahmu, jangan berdiri di atap sambil berdebat.
Turunlah ke lantai.
Duduklah.
Dengarkan napas satu sama lain.





Yang sedang terjadi barangkali bukan soal siapa paling sah memegang kunci,
tapi siapa yang paling lupa bahwa kunci itu bukan untuk dipamerkan,
melainkan untuk membuka pintu bagi mereka yang kedinginan.





KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan cara yang sangat membumi, pernah berkata:






“Tidak penting apa agamamu atau apa organisasimu.
Kalau kamu tidak bisa berbuat baik kepada sesama,
maka semua itu tidak ada artinya.”






Kalimat itu tidak sedang meremehkan rumah,
justru sedang menyelamatkannya dari kesombongan penghuninya sendiri.





Rumah besar ini tidak butuh pemenang.
Ia butuh penjaga.
Penjaga yang rela tidak disebut namanya,
asal lampu tetap menyala dan tikar tetap terbentang.

Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB