Jika rumah ini roboh,
yang tertimpa bukan hanya mereka yang berdebat di dalam,
tapi juga mereka yang sejak awal percaya bahwa rumah ini adalah tempat pulang.
Maka, sebelum kita saling mengunci dari dalam,
ada baiknya kita ingat:
rumah ini lebih tua dari ambisi kita,
dan jauh lebih sabar dari ego kita.
Dan rumah, seperti hati,
tidak pernah minta dibela dengan suara keras.
Ia hanya ingin dirawat dengan adab.
Sebagai penutup, sebuah puisi lirih dari hati :
Mualem : Menangis di Kursi Amanah
Doa Kecil di Serambi
Tuhan,
jika kami sedang benar,
tolong lembutkan cara kami memegang kebenaran itu.
Jika kami sedang salah,
jangan Kau biarkan kesalahan itu berubah menjadi kesombongan.