opini

Ketika Tangis Gubernur Aceh Menjadi Isyarat Relasi Pusat–Daerah

Kamis, 18 Desember 2025 | 08:10 WIB



Pola semacam ini tidak hanya terjadi di Aceh. Ia berulang di berbagai wilayah pinggiran, seperti Papua, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan daerah lain yang kaya sumber daya, tetapi relatif lemah secara politik. Keberatan daerah kerap dibingkai sebagai persoalan emosional atau ketidakdewasaan politik, bukan sebagai argumen sah dalam ruang demokrasi. Dengan cara ini, pusat mempertahankan otoritasnya sembari tetap terlihat manusiawi.





Sebagai orang luar, saya tidak berkepentingan menilai ketulusan Mualem. Ketulusan, betapapun penting secara moral, tidak cukup secara politik. Yang lebih mendesak adalah membaca peristiwa ini sebagai peringatan: mengapa seorang gubernur harus menangis agar kegelisahan daerah mendapat perhatian? Apa yang tidak bekerja dalam desain otonomi kita? Dan sampai kapan daerah hanya diberi ruang untuk mengeluh, bukan untuk turut menentukan arah kebijakan?





Dalam negara yang sehat, koreksi kebijakan tidak menunggu viralnya emosi pejabat publik. Ketegangan pusat–daerah seharusnya diselesaikan melalui mekanisme yang adil, transparan, dan setara. Jika tidak, yang akan terus diproduksi adalah siklus lama: daerah diminta bersabar, sementara pusat diminta dimaklumi.





Jika tangis dari Aceh hari ini hanya dicatat sebagai peristiwa emosional, bukan sebagai sinyal kegagalan struktural, maka esok kita akan kembali pada rutinitas yang sama. Dan di situlah persoalan sesungguhnya berada: bukan pada air mata seorang gubernur, melainkan pada negara yang baru bersedia mendengar ketika suara dari pinggiran sudah terlanjur pecah.





Penulis : Emma Wijaya





Editor : Danang Afi


Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB