Opini, Inspiratifonline.com - Dalam banyak narasi populer, hubungan antara uang dan kebahagiaan kerap diringkas menjadi satu kalimat moralistik: uang bukan segalanya. Ya, benar, meski kalimat ini terdengar bijak, menenangkan, dan mudah diterima. Namun justru di situlah letak bahayanya.
Ketika pernyataan tersebut dilepaskan dari konteks struktural dan material kehidupan manusia, ia berubah dari kebijaksanaan menjadi pengaburan realitas. Menjadi semu, masuk dalam ambiguitas moralistik.
Uang memang bukan sumber utama kebahagiaan, tetapi tanpa uang, kebahagiaan sering kali menjadi sesuatu yang elitis, hanya dapat diakses oleh mereka yang sudah aman secara ekonomi.
Ilmu psikologi telah lama menunjukkan bahwa kebutuhan dasar seperti pangan, tempat tinggal, rasa aman, dan stabilitas hidup memiliki korelasi langsung dengan kesehatan mental. Hal ini sejalan dengan hierarki kebutuhan Abraham Maslow (teori yang menyatakan bahwa kebutuhan dasar harus terpenuhi sebelum manusia mengejar makna dan aktualisasi diri), yang menempatkan kebutuhan fisiologis dan rasa aman sebagai fondasi sebelum manusia dapat mengejar kebutuhan psikologis yang lebih tinggi. Ini bukan persoalan preferensi pribadi, melainkan syarat minimum untuk keberfungsian psikologis setiap manusia.
Maka, saat kita membicarakan makna hidup, tujuan, dan well-being (kesejahteraan hidup secara psikologis dan sosial) tanpa terlebih dahulu memastikan fondasi material yang layak, sama saja seperti membangun rumah di atas tanah yang rapuh.
Masalahnya, banyak narasi tentang “uang bukan segalanya” berhenti tepat setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Ya, ini valid, tetapi seolah-olah setelah itu, tanggung jawab sosial, ekonomi, dan politik ikut usai.
Di titik inilah konsep diminishing returns (penurunan tambahan manfaat) sering disalahgunakan. Benar bahwa setelah ambang tertentu, tambahan pendapatan tidak lagi menaikkan kebahagiaan secara signifikan. Namun fakta ini tidak berarti bahwa ketimpangan ekonomi, upah rendah, atau kerja berlebihan dapat dianggap wajar selama seseorang “masih bisa bertahan hidup”. Ini sama saja menjadikan manusia sebagai mesin kapitalisme.