• Minggu, 20 September 2026

Ilusi Uang: Ia Bukan Sumber Kebahagiaan, Tapi?

Photo Author
Danang Afi, InspiratifOnline.com
- Minggu, 21 Desember 2025 | 02:33 WIB


Opini, Inspiratifonline.com - Dalam banyak narasi populer, hubungan antara uang dan kebahagiaan kerap diringkas menjadi satu kalimat moralistik: uang bukan segalanya. Ya, benar, meski kalimat ini terdengar bijak, menenangkan, dan mudah diterima. Namun justru di situlah letak bahayanya.





Ketika pernyataan tersebut dilepaskan dari konteks struktural dan material kehidupan manusia, ia berubah dari kebijaksanaan menjadi pengaburan realitas. Menjadi semu, masuk dalam ambiguitas moralistik.





Uang memang bukan sumber utama kebahagiaan, tetapi tanpa uang, kebahagiaan sering kali menjadi sesuatu yang elitis, hanya dapat diakses oleh mereka yang sudah aman secara ekonomi.





Ilmu psikologi telah lama menunjukkan bahwa kebutuhan dasar seperti pangan, tempat tinggal, rasa aman, dan stabilitas hidup memiliki korelasi langsung dengan kesehatan mental. Hal ini sejalan dengan hierarki kebutuhan Abraham Maslow (teori yang menyatakan bahwa kebutuhan dasar harus terpenuhi sebelum manusia mengejar makna dan aktualisasi diri), yang menempatkan kebutuhan fisiologis dan rasa aman sebagai fondasi sebelum manusia dapat mengejar kebutuhan psikologis yang lebih tinggi. Ini bukan persoalan preferensi pribadi, melainkan syarat minimum untuk keberfungsian psikologis setiap manusia.





Maka, saat kita membicarakan makna hidup, tujuan, dan well-being (kesejahteraan hidup secara psikologis dan sosial) tanpa terlebih dahulu memastikan fondasi material yang layak, sama saja seperti membangun rumah di atas tanah yang rapuh.





Masalahnya, banyak narasi tentang “uang bukan segalanya” berhenti tepat setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Ya, ini valid, tetapi seolah-olah setelah itu, tanggung jawab sosial, ekonomi, dan politik ikut usai.





Di titik inilah konsep diminishing returns (penurunan tambahan manfaat) sering disalahgunakan. Benar bahwa setelah ambang tertentu, tambahan pendapatan tidak lagi menaikkan kebahagiaan secara signifikan. Namun fakta ini tidak berarti bahwa ketimpangan ekonomi, upah rendah, atau kerja berlebihan dapat dianggap wajar selama seseorang “masih bisa bertahan hidup”. Ini sama saja menjadikan manusia sebagai mesin kapitalisme.


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Danang Afi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB
X