opini

Ilusi Uang: Ia Bukan Sumber Kebahagiaan, Tapi?

Minggu, 21 Desember 2025 | 02:33 WIB



Kebahagiaan yang menurun pengaruhnya oleh uang bukanlah argumen untuk meminimalkan peran ekonomi, melainkan peringatan bahwa sistem yang memaksa manusia terus mengejar uang tanpa henti justru merusak sumber kebahagiaan itu sendiri. Di sinilah batas pengaruh uang semestinya dipahami.





Ketika waktu habis untuk bekerja, hubungan sosial terkikis. Ketika energi mental tersedot oleh kecemasan ekonomi, makna hidup menjadi kabur. Dalam kondisi ini, masalahnya bukan pada individu yang “kurang bersyukur”, tetapi pada struktur yang menjadikan uang sebagai pusat eksistensi.





Psikologi positif sering menekankan pentingnya relasi sosial, tujuan hidup, dan kemampuan menikmati momen sederhana. Semua itu benar. Namun perlu ditegaskan: kemampuan membangun relasi yang sehat, merawat kesehatan mental, dan mengejar tujuan hidup tidak terjadi di ruang hampa. Ia membutuhkan waktu luang, rasa aman, dan otonomi.





Hal ini sejalan dengan Self-Determination Theory (teori penentuan diri) yang dikemukakan Edward Deci dan Richard Ryan, yang menekankan tiga kebutuhan psikologis utama: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.





Otonomi inilah yang dalam masyarakat modern sangat ditentukan oleh kondisi ekonomi. Dengan kata lain, uang mungkin tidak membeli kebahagiaan, tetapi ia membeli kesempatan untuk mengupayakan kebahagiaan secara berkelanjutan.





Di sinilah narasi lain perlu ditegaskan. Kita tidak perlu memilih antara uang atau makna hidup. Yang perlu dikritik adalah sistem yang memisahkan keduanya secara palsu: seolah-olah uang adalah urusan duniawi yang kotor, sementara kebahagiaan adalah urusan batin yang murni. Padahal, kehidupan manusia selalu berada di persimpangan keduanya.





Kebahagiaan yang berkelanjutan memang tumbuh dari hal-hal yang tidak bisa dibeli, seperti cinta, makna, dan keterhubungan. Namun agar hal-hal itu dapat tumbuh, manusia membutuhkan kondisi material yang adil dan manusiawi.





Oleh karena itu, pertanyaan penting bukan sekadar “apakah uang bisa membuatmu bahagia?”, melainkan “mengapa akses terhadap kehidupan layak masih ditentukan oleh uang, dan siapa yang diuntungkan dari narasi bahwa uang itu tidak penting?”

Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB