Beberapa waktu lalu, aku sempat terjebak dalam rasa kagum yang berlebihan terhadap teknologi AI.
Aku merasa ia adalah "otak" baru yang bisa menjawab segala kegelisahanku. Ia bisa menjawab dengan kalimat-kalimat yang puitis dan terstruktur.
Namun, ada satu momen yang membuatku tersadar. Sebuah momen yang cukup memalukan secara personal, bagi seorang penulis seperti aku.
Aku mencoba meminta saran tentang sebuah masalah yang sedang kuhadapi. AI tersebut menjawab dengan sangat lancar, memberikan poin-poin yang terlihat sangat solutif.
Namun, setelah kupikirkan lagi sambil merenung di tengah malam. Aku sadar bahwa jawaban itu kosong. Ia hanya merangkai kata-kata yang umum digunakan untuk menanggapinya, tanpa benar-benar memahami rasa sakitnya. Juga gagal secara logika.
Di situlah aku belajar tentang istilah Artificial Narrative Fluency. AI hari ini sebenarnya bukanlah sebuah otak yang bernalar. Ia adalah aktor yang sangat mahir menyamar sebagai otak. Ia hanya memiliki kelancaran bersandiwara, seolah cerdas karena ia dilatih untuk menata kata.
Ia bukan untuk memahami makna di balik kata-kata tersebut.Kita sebagai manusia seringkali melakukan kesalahan fatal: kita menilai kemampuan menata kata sebagai kemampuan bernalar. Padahal, keduanya berada di kelas yang berbeda. Seseorang bisa saja pandai menghafal sesuatu yang hebat, tanpa pernah benar-benar menemukan akar masalahnya.
Bca juga: Amerika Serikat: Di Tengah Bayang Dunia dan Pax Judaica