Aku selalu mengingatkan diriku sendiri: jangan puas hanya dengan menjadi orang yang pandai meniru. Meniru adalah kemampuan teknis, tapi menemukan akar masalah, inilah kemampuan intelektual yang mendalam. Jangan sampai kita menjadi sarjana yang "pintar berteori" tapi gagal total dalam bertindak karena logika kita sudah tumpul oleh narasi-narasi instan.
Kesalahan AI adalah ia tidak bisa berlogika, ia tidak bisa merasakan duka atau kepentingan, Karana ia tidak mengalami.
Ia hanya meniru pola. Kita sebagai manusia punya keunggulan lebih dari itu.
Gunakanlah logikamu untuk melihat apa yang tidak tertulis. Lihatlah niat di balik kata-kata indah. Dengan begitu, kamu tidak akan mudah tertipu oleh sandiwara kecerdasan, yang sekarang makin marak di sekeliling kita.
Logika adalah kompas, yang akan menjagamu agar tidak tersesat di tengah lautan informasi yang semu. Jangan biarkan dirimu hanya menjadi aktor yang mahir menata kata tanpa memiliki kemampuan bernalar yang nyata.
Tetaplah bertanya, tetaplah kritis, dan jangan takut jika kebenaranmu harus ditertawakan terlebih dahulu.