Pintar menyediakan data itu mudah, tapi pintar membaca kepentingan di balik data tersebut adalah tingkat logika yang lebih tinggi.
Kita harus berani menghadapi tawa dan pertentangan demi mempertahankan logika yang benar. Jangan biarkan dirimu hanya menjadi "papan pengumuman" data, tanpa sekali pun pernah mempertanyakan, apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar.
Alih-alih apa, bagaimana, dimana dan kapan, pertanyaan mengapa jarang sekali diajukan.
Baca juga: Ancaman Tersembunyi “Cyber Algorithma” pada Negeri Ini
Mengasah Ketajaman Berpikir di Balik Deretan Angka dan Data
Kita hidup di dunia yang memuja angka. Kita sering menganggap bahwa seseorang yang pintar menghitung, pasti seseorang yang pintar berpikir.
Padahal, aku pernah bertemu dengan orang yang sangat jago matematika. Namun, ia benar-benar bingung saat harus mengambil keputusan hidup. Ia rentan, pada apa yang melibatkan empati dan konsekuensi jangka panjang.
Menghitung itu soal mekanis, tapi berpikir itu soal kebijaksanaan. Begitu juga dengan data. Di era digital, kita dibombardir dengan statistik yang terlihat sangat ilmiah. Namun, ingatlah bahwa data hanyalah alat. Seseorang yang pintar menyediakan data, belum tentu pintar membaca arah kepentingan di balik data tersebut. Akan menjadi seperti apa kedepannya.