Kalimat itu memukulku cukup keras. Di sana aku sadar, ada kesalahpahaman fatal yang sering ditelan bulat-bulat, oleh orang-orang yang merasa sudah "makan bangku sekolah" tinggi-tinggi.
Banyak dari kita yang merasa, pendidikan adalah tiket untuk dilayani, bukan untuk melayani atau setidaknya menjaga kebermanfaatan umum.
Kita terjebak dalam psikologi hierarki. Karena merasa sudah memiliki gelar. Kita merasa pekerjaan-pekerjaan kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, adalah urusan orang-orang yang "tidak memiliki pendidikan."
Padahal, di saat itulah, pendidikan kita sebenarnya sedang diuji dan sayangnya, kita gagal total.
Logika ini sangat berbahaya. Saat kamu merasa lebih tinggi dari orang lain karena pendidikan formal, empatimu biasanya mulai tumpul.
Kamu lupa bahwa kebersihan, adalah tanggung jawab kolektif. Itu bukan sekadar tugas orang-orang dengan strata ekonomi yang lebih rendah.
Baca juga: Hedonic Adaptation : Bahagia yang Mati Rasa
Ketika "Orang Kecil" Justru Menjadi Guru Kehidupan yang Sebenarnya
Mari kita bandingkan dengan pemandangan yang sering kita lihat di gambar-gambar reflektif. Seorang anak jalanan atau pemulung yang dengan telaten, memungut botol plastik yang baru saja dibuang oleh seorang sarjana. Ini adalah tamparan keras bagi sistem pendidikan kita.