“Struktur industri di Kendal saat ini masih didominasi industri kecil sebanyak 28.059 unit. Sementara industri besar berjumlah 178 unit, mayoritas berada di Kawasan Industri Kendal,” jelas Dyah Kartika Permanasari.
Meski demikian, Bupati yang akrab disapa Tika itu tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Sejumlah persoalan masih menjadi pekerjaan rumah, mulai dari keterbatasan permodalan, kualitas SDM, manajemen usaha, hingga pemanfaatan teknologi dan digitalisasi yang belum optimal.
“UKM juga menghadapi kendala akses pasar, standar kualitas produk, bahan baku, serta tingginya biaya produksi,” ungkapnya.
Selain itu, tantangan regulasi, rendahnya inovasi, daya saing usaha, hingga dampak dinamika ekonomi global turut mempengaruhi keberlanjutan UKM di daerah.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkab Kendal terus menggulirkan berbagai program strategis, di antaranya peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan akses pembiayaan, percepatan digitalisasi, serta penguatan jejaring dan akses pasar.
“Kami berkomitmen memastikan pertumbuhan investasi sejalan dengan penguatan UKM dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.