“Kemandirian daerah harus dibarengi dengan karakter dan akhlakul karimah. Itu pesan utama yang ingin kami sampaikan melalui Dugderan,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan akan dimulai selepas salat Zuhur, sekitar pukul 13.00 WIB, dengan melibatkan empat kelurahan inti, yakni Patukangan, Pekauman, Pegulon, dan Ngilir. Masing-masing kelurahan akan menampilkan kreasi budaya bernuansa religi.
Tak hanya itu, partisipasi organisasi keagamaan dan komunitas seni turut menambah kemeriahan acara. Salah satu penampilan yang dinantikan adalah kolaborasi Drum Band TK Wali Joko dengan tari kreasi anak-anak.
Menurut KH Asro’ie, pelibatan anak-anak dan generasi muda menjadi bagian penting dari upaya pelestarian tradisi Dugderan agar tetap hidup lintas generasi.
“Anak-anak perlu dikenalkan dengan tradisi daerah sejak dini agar nilai-nilai budaya dan keagamaan tetap terjaga,” katanya.
Takmir Masjid Agung Kendal mengimbau masyarakat untuk turut menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung, sehingga Dugderan dapat berjalan aman dan khidmat.
“Kami mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menyambut Ramadan dengan suasana yang tertib, penuh kegembiraan, dan persaudaraan,” pungkasnya.
Pawai Dugderan 1447 Hijriah diperkirakan kembali menarik perhatian ribuan warga dan menjadi pembuka rangkaian kegiatan keagamaan menjelang Ramadan di Kabupaten Kendal.