Opini, Inspiratifonline.com - Bayangkan sebuah syarat sederhana namun mengganggu kenyamanan banyak orang dewasa: setiap kebijakan politik, undang-undang, dan keputusan negara wajib dapat dijelaskan secara jujur dan masuk akal kepada anak berusia 10 tahun. Bukan dengan manipulasi bahasa, bukan dengan istilah teknokratis, apalagi dalih klasik “ini terlalu rumit untuk kamu pahami”, melainkan dengan logika yang bersih dan alasan yang bisa diterima oleh akal sehat anak.
Pertanyaannya bukan apakah anak itu akan setuju. Pertanyaannya lebih menusuk: apakah kebijakan tersebut cukup jujur untuk dipahami tanpa kamuflase bahasa?
Dalam praktik politik modern, bahasa sering kali tidak digunakan untuk menjelaskan, melainkan untuk menyembunyikan. Istilah seperti penyesuaian, optimalisasi, stabilitas nasional, atau kepentingan strategis kerap berfungsi sebagai tirai asap. Ia menutupi dampak nyata kebijakan terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Jika semua itu harus dijelaskan kepada anak, banyak kebijakan barangkali akan runtuh bahkan sebelum disahkan.
Anak usia 10 tahun memiliki keunggulan yang sering hilang pada orang dewasa: sensitivitas terhadap keadilan yang sederhana. Mereka bertanya tanpa basa-basi: mengapa yang kaya selalu mendapat lebih banyak? Mengapa orang yang bersalah tidak dihukum setimpal? Mengapa sebuah aturan justru membuat hidup orang makin susah?
Baca Juga: Hedonic Adaptation, "Bahagia yang Mati Rasa"
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jarang mampu dijawab oleh politik yang sudah terlalu akrab dengan kompromi kepentingan.
Jika kebijakan pajak harus dijelaskan kepada anak, kita dipaksa jujur tentang siapa yang paling terbebani, siapa yang paling diuntungkan, dan mengapa ketimpangan terus dianggap wajar. Jika kebijakan pembangunan harus diterangkan, kita harus menjawab mengapa ada yang digusur, siapa yang menikmati hasilnya, dan apakah penderitaan manusia benar-benar layak disebut sebagai “biaya pembangunan”.