Pada titik ini, yang tampak naif bukanlah anak-anak, melainkan sistem itu sendiri. Politik terlihat telanjang justru ketika ia dipaksa berbicara dengan bahasa yang sederhana.
Kewajiban menjelaskan kebijakan kepada anak memaksa negara kembali ke fungsi etisnya: melindungi, bukan sekadar mengatur. Bahasa yang tak bisa dipahami anak biasanya bukan karena terlalu canggih, melainkan karena terlalu sarat kepentingan yang enggan diakui.
Lebih jauh, kebijakan yang tak bisa dijelaskan kepada anak umumnya juga sulit dipertanggungjawabkan secara moral. Moralitas paling dasar: "jangan menyakiti yang lemah, jangan menipu, jangan merampas hak orang lain". Justru hidup paling kuat dalam logika anak-anak. Orang dewasa sering kehilangan kompas itu bukan karena tidak tahu, tetapi karena terlalu lama membiasakan kesalahan hingga terasa normal.
Baca Juga: Ilusi Uang, "Ia Bukan Sumber Kebahagiaan, Tapi?"
Dunia memang kompleks, tetapi kompleksitas tidak pernah boleh menjadi alasan untuk menyingkirkan kejujuran. Jika sebuah kebijakan benar-benar perlu dan adil, ia seharusnya dapat dijelaskan secara sederhana: apa tujuannya, siapa yang terdampak, dan mengapa ia harus dijalankan.
Maka, jika setiap keputusan politik harus bisa dijelaskan kepada anak usia 10 tahun, mungkin bukan anak yang perlu belajar politik. Justru politiklah yang harus belajar kembali menjadi manusia.
Di situlah kita menemukan fakta yang paling mengusik: banyak kebijakan hari ini gagal bukan karena kurang pintar, melainkan karena terlalu jauh dari rasa adil yang paling dasar. Bukankah begitu?