Belajar dari Kehancuran Negara Lain
Sejarah adalah guru terbaik. Kita tidak boleh sombong dan merasa Indonesia akan aman selamanya.
Banyak negara yang tadinya damai, menjadi porak-poranda, karena masyarakatnya diadu domba lewat algoritma digital dan isu identitas.
1. Kasus Libya (Arab Spring)
Libya dahulu adalah salah satu negara terkaya di Afrika dengan fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis.
Namun, melalui media sosial, narasi kebencian terhadap pemerintah dan antar-kelompok disebarkan secara masif. Algoritma membantu pesan-pesan provokatif menyebar lebih cepat daripada pesan perdamaian.
Hasilnya, Negara tersebut pecah dalam perang saudara berkepanjangan. Hingga hari ini, Libya kesulitan untuk bersatu kembali, ekonominya hancur, dan kekayaan minyaknya justru dikelola atau dipengaruhi oleh kepentingan asing.
2. Kasus Myanmar (Isu Rohingya)
Ini adalah contoh nyata bagaimana algoritma media sosial menaikan konten kebencian. Pesan-pesan yang menghasut kemarahan satu kelompok terhadap kelompok lain disebarkan secara sistematis oleh akun-akun tertentu.