• Selasa, 22 September 2026

Media Lokal, NGO, dan Perempuan Kendal: Kapan Pemberitaan Menjadi Alat Keadilan

Photo Author
Danang Afi, InspiratifOnline.com
- Kamis, 5 Februari 2026 | 11:32 WIB



Di sisi lain, ada momen ketika ketiadaan pemberitaan justru lebih bermakna. Kerja-kerja pengorganisiran akar rumput, pendampingan korban, atau konsolidasi komunitas sering membutuhkan ruang aman yang jauh dari sorotan. Dalam kultur Kendal yang menekankan harmoni, musyawarah, dan tepa salira, ekspos media yang tergesa-gesa bisa memicu resistensi, memecah komunitas, atau membahayakan pihak yang paling rentan. Tidak semua perjuangan perlu disiarkan; sebagian justru membutuhkan kesenyapan strategis agar tumbuh kuat dari bawah.





Karena itu, pertanyaan kunci bukanlah “apakah media penting?”, melainkan kapan, untuk siapa, dan dengan cara apa. Pemberitaan menjadi penting ketika bertujuan menantang ketimpangan struktural, melindungi warga dari intimidasi, atau mendorong perubahan kebijakan yang konkret. Sebaliknya, ia menjadi tidak penting — bahkan berbahaya — ketika berisiko mengeksploitasi korban, menyederhanakan kompleksitas perjuangan, atau memperkuat narasi kekuasaan yang sudah dominan.





Bagi perempuan petani dan pesisir di Kendal, media dapat menjadi ruang pengakuan yang berharga. Selama ini, “petani” sering dibayangkan sebagai laki-laki yang memegang cangkul, sementara kerja perempuan di sawah, tambak, dan pengolahan hasil laut dianggap sebagai kerja tambahan yang tak bernilai ekonomi. Liputan yang menampilkan perempuan sebagai subjek politik — bukan objek penderitaan — dapat menggugat stereotip patriarkal dan membuka ruang tuntutan atas akses tanah, sumber daya, kredit, pelatihan, serta perlindungan kerja yang layak.





Namun, pengakuan ini hanya bermakna jika dibangun dengan etika, keberpihakan, dan partisipasi komunitas. Bukan NGO yang harus selalu tampil sebagai juru bicara, melainkan warga — terutama perempuan — yang perlu diberi ruang untuk bersuara dengan aman dan bermartabat. Media idealnya menjadi mitra dalam memperluas keadilan, bukan sekadar corong kekuasaan atau mesin sensasi.
Pada akhirnya, keberhasilan kerja NGO tidak diukur dari seberapa sering muncul di berita, tetapi dari seberapa jauh kehidupan perempuan dan anak di Kendal menjadi lebih aman, adil, dan berdaya. Media adalah alat yang kuat — tetapi ia harus digunakan dengan kesadaran kritis, strategi yang matang, dan kepekaan terhadap konteks lokal. Seperti perempuan pesisir yang tahu kapan harus membuka tikar ikan asin di bawah matahari dan kapan harus menutupnya dari hujan, NGO pun perlu bijak dalam menentukan kapan bersuara lantang dan kapan memilih kesenyapan strategis.





Penulis: Emma Wijaya





Editor: Danang Afi


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Danang Afi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB
X