Alih-alih menyalahkan anak dan istrinya yang kurang ajar, pak Warman memilih memperbaiki apa saja yang masih bisa diperbaiki. Dengan telaten ia merawat anak perempuan dan calon cucunya karna suami anaknya hanya datang untuk menikah, lalu pulang ke Padang untuk melanjutkan hidup seolah tak terjadi apa-apa.
Di tengah pak Warman yang sedang membenahi putrinya dan kewarasanya, si istri pulang dengan membawa penyesalan, namun tidak membawa rasa malu. Entah bagaimana cara istri pak Warman meminta maaf, yang pasti ia mengaku khilaf dan berdalih bahwa statusnya masih sah sebagai istri karna pak Warman belum jatuh talak. Dan entah pak Warman yang terlalu baik atau istri dan anaknya yang keterlaluan, keluarga kecil yang sudah dihajar badai habis-habisan itu seolah kembali terbentuk. Namun bentuk itu hanya sekedar tampak dari luar, pak Warman sebagai penghuninya sudah kehilangan segalanya bahkan dirinnya sendiri. Beliau mungkin sudah lelah untuk berfikir jernih.
Dan di sinilah pak Warman mencapai batasnya, ketika anak perempuanya menjalani persalinan dan melahirkan cucu laki-laki pertama bagi pak Warman.Tak ada yang tau ekspresi pak Warman ketika cucunya lahir, ia belum berdoa untuk diberi cucu. Di titik itu kewarasan pak Warman mulai goyah. Biaya persalinan, finansial berantakan, desas-desus tetangga, dan hal-hal lain yang membebani meski bukan dari ulahnya. Tawa-tawa sumbang mulai terdengar.
Matanya kosong menyiratkan betapa berisik pikiranya selama ini hingga ia lelah menggunakanya. Kondisinya akan semakin buruk jika dibiarkan. Hingga salah seorang kerabat di Kalimantan mendengar kabar tersebut lalu memutuskan membawa pak Warman, sekedar untuk mengajaknya beristirahat dari hidup. Dan beginilah kondisi pak warman sekarang, dianggap ODGJ oleh orang-orang yang tak tau banyak tentang beliau.
Beberapa minggu lalu saya sempat ngobrol dengan kerabatnya, ia berencana membawa pak Warman pulang ke kampungnya setelah empat tahun di Kalimantan sekedar untuk menghilangkan rindu. Pak Warman sering maracau menyebut anak dan istrinya, kerabat beliau pun merasa tak tega.
Kabar tarakhir dari anak perempuan pak Warman, saat ini ia menjadi pemandu lagu di sebuah karaoke di Jogja sekaligus menjadi teman gelap seorang pengusaha. Itulah informasi yang saya dapat dari kerabat pak Warman yang lain dan masih aktif berinteraksi dengan anak pak Warman. Kenapa ia tidak mencoba menolong ayahnya ketika kondisinya seperti sekarang??. Entahlah, dia pergi dari rumah beberapa bulan setelah melahirkan, menyerahkan tanggung jawab anaknya pada si ibu lalu tak pernah kelihatan lagi.
Mendengar kilas balik pak Warman, membuat saya bingung menanggapinya. Seolah-olah pak Warman tidak ditakdirkan bahagia, melainkan untuk mengajarkan pada orang lain bahwa hidup tak harus memiliki makna karna ia terlalu sulit di artikan sampai-sampai harus pergi jauh untuk mencarinya.
Penulis: Amir Syahmi