• Selasa, 22 September 2026

Menjaga Nyala yang Panjang: “Sandiwara Pelangi” dan Percakapan tentang Konsistensi Berkesenian di Kendal

Photo Author
Danang Afi, InspiratifOnline.com
- Minggu, 28 Juni 2026 | 15:57 WIB



Pandangan tersebut beririsan dengan gagasan regenerasi yang dibangun Silent Candle Production. Riki Himawan, salah satu pendiri SCP, mengibaratkan komunitasnya seperti sebuah kapal yang terbuka bagi siapa saja.





“Ibarat kapal, SCP itu siapapun boleh turut serta. Terlepas ada bakat atau tidak. Yang penting mau dulu, lalu belajar bersama,” ungkapnya.





Percakapan kemudian meluas ketika Giandra Febrian dari Malang Art Movement berbagi pengalaman mengenai dinamika ekosistem seni di Malang maupun Yogyakarta. Ia melihat adanya perbedaan pola hubungan antar komunitas seni.





Menurutnya, di beberapa kota, ruang seni masih sering berjalan dalam kelompok masing-masing. Penonton seni rupa belum tentu datang ke pertunjukan musik, begitu pula sebaliknya. Hal ini menjadi tantangan untuk membangun ekosistem yang lebih saling terhubung.





Ia juga menekankan bahwa keberlanjutan seni membutuhkan orang-orang yang mau berbagi pengetahuan secara konsisten. Proses transfer ilmu, menurutnya, menjadi salah satu jalan penting untuk menjaga regenerasi.
Dalam perjalanan produksi “Sandiwara Pelangi”, Riki Himawan menyampaikan bahwa membuat film panjang bukan perkara singkat. Proses yang dimulai sejak 2023 hingga akhirnya tayang pada 2026 membutuhkan ketekunan panjang, terutama pada tahap pascaproduksi.





Bagian penyuntingan, memperbaiki adegan, menyusun ulang cerita, hingga memastikan film layak dipertanggungjawabkan kepada publik menjadi tantangan tersendiri.
Bagi Silent Candle Production, selesainya satu film bukanlah titik akhir. Sebuah karya akan menjadi catatan, bahan evaluasi, sekaligus pijakan untuk proses berikutnya.
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut kemudian ditutup oleh Dewa dari Ngapawed dengan sebuah refleksi sederhana namun kuat:





“Konsistensi besar tidak bisa dilakukan selama konsistensi kecil tidak dilakukan.”
Kalimat itu menjadi semacam simpul dari seluruh perbincangan malam tersebut: bahwa perjalanan seni tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar panggung yang dicapai, tetapi oleh kesediaan untuk terus hadir, belajar, dan menjaga proses.


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Danang Afi

Rekomendasi

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB
X