Ia bercerita, bagi sebagian masyarakat Tionghoa, Gus Dur disebut Hong Tei, kaisar. Dibuatkan papan arwah dengan ornamen Masjid Agung Demak, atas rekomendasi Gus Mus. Dalam sesaji, ikan, kambing, dan ayam menggantikan babi. Tidak ada tradisi yang dibatalkan. Tidak ada iman yang dipaksa pindah rumah. Yang ada hanyalah penyesuaian, sebagaimana air menyesuaikan bentuk wadahnya tanpa kehilangan hakikatnya.
Saya tidak menyebut ini toleransi. Kata itu sudah terlalu sering dipakai sampai kelelahan. Saya lebih melihatnya sebagai rasa hormat yang tumbuh karena diberi ruang, bukan karena diwajibkan.
Kemudian suara-suara lain menyusul, pendek, nyaris seperti wirid.
Perwakilan Katolik berkata, “Terima kasih atas apa yang diwariskan.”
Perwakilan Hindu juga hanya berkata, “Terima kasih.”
Gus Bobi: “Matur suwun, Gus.”
Kang Makmun: “Nyuwun barokah.”
Tidak ada lomba pidato. Tidak ada pembuktian siapa paling berjasa. Barangkali memang begitulah rasa syukur bekerja: ia tidak berisik, tapi menetap.