Opini, Inspiratifonline.com - Di gedung MWC NU Sukorejo, Kendal. Saya tidak datang untuk menilai siapa Gus Dur. Saya juga tidak membawa niat besar untuk memahami Indonesia. Saya hanya duduk, mendengar, dan mencatat. Sebab sering kali, kebenaran justru muncul bukan dari penjelasan, melainkan dari cara orang-orang bercerita tanpa niat menggurui.
Pada haul Gus Dur ke 16, Gus Sabrang mengawali dengan kalimat yang terdengar sederhana:
“Cara berpelukan orang beda-beda. Ketika Gus Dur guyon, begitulah cara Gus Dur memeluk umatnya.”
Saya menangkapnya bukan sebagai metafora, melainkan sebagai pengakuan. Bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk yang seragam. Ada yang lewat tawa, ada yang lewat kebijakan, ada pula yang lewat diam yang panjang.
Pak Haryanto, seorang pengusaha, tidak membawa istilah besar. Ia hanya menyebut satu hal: ketulusan.
“Gus Dur tulus memperjuangkan Tionghoa tanpa pencitraan. Ketulusan itu yang menggerakkan kami untuk menghormatinya.”
Saya terdiam. Di zaman ketika kebaikan sering dipamerkan, ternyata ketulusan justru dikenali karena ia tidak merasa perlu dikenali.