Baca Juga: Mualem, "Menangis di Kursi Amanah"
Gus Sabrang menutup dengan kalimat yang terasa seperti laporan keadaan semesta:
“Gus, dunia repot. Panjenengan pun lulus. Kulo titip Indonesia, mugi anak-anak muda dikancani untuk meneruskan cita-cita panjenengan.”
Dunia memang repot. Dan orang-orang yang selesai dengan dirinya sering kali justru meninggalkan pekerjaan rumah bagi yang masih hidup.
Pak Haryanto menambahkan satu kalimat, lirih namun utuh:
“Gus Dur, ni hao. Kami baik-baik saja.”
Kalimat itu bukan basa-basi. Ia seperti pesan singkat kepada seseorang yang telah pergi jauh, bahwa benih yang ia tanam masih hidup, meski tumbuh dengan bentuk yang tidak selalu rapi.