opini

Protokol Nol: Peradaban yang Berdiri di Atas Sakelar

Kamis, 1 Januari 2026 | 02:26 WIB


Opini, Inspiratifonline.com - Kita hidup di zaman yang merasa dirinya paling canggih sepanjang sejarah manusia. Segala sesuatu bisa dikendalikan dari layar kecil di genggaman tangan. Kita memesan makanan tanpa keluar rumah, memindahkan uang tanpa menyentuhnya, berbicara lintas benua tanpa suara benar-benar hadir. Gedung-gedung tinggi menjulang, data mengalir lebih cepat dari pikiran, dan dunia tampak berada dalam kendali manusia.





Namun rasa berkuasa itu menyimpan satu kelemahan mendasar: ia berdiri di atas fondasi yang sangat tipis. Seluruh peradaban modern bertumpu pada satu hal yang sering kita anggap remeh yaitu aliran listrik yang tak boleh berhenti. Kabel-kabel tipis itulah yang menyangga mimpi besar bernama kemajuan.





Pertanyaannya sederhana: “Apa yang terjadi jika aliran itu terputus?”.





Tulisan ini bukan ramalan, bukan pula kabar buruk yang ingin menebar ketakutan. Ini adalah simulasi sosial, sebuah what-if scenario untuk menguji seberapa kokoh peradaban yang kita banggakan, jika satu sakelar utama benar-benar padam





Hari Pertama: Ketika Gelap Masih Dianggap Libur





Pada hari pertama, sebagian besar orang menganggap mati listrik sebagai gangguan kecil. Di kota-kota besar, orang menyalakan lilin, bercanda di media sosial. Selama baterai masih ada dan menganggapnya sebagai jeda dari rutinitas yang melelahkan. Ketiadaan listrik dibaca sebagai liburan singkat, bukan ancaman.





Namun di ruang-ruang yang tak terlihat publik, kepanikan mulai bekerja. Sistem kelistrikan yang saling terhubung mati berantai. Pembangkit berhenti, jaringan lumpuh, cadangan daya menyusut. Tidak ada tombol ajaib untuk menyalakan semuanya kembali.


Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB