Malam pertama datang dengan sunyi yang tak biasa. Lampu jalan padam, papan reklame menghilang, dan kota kehilangan wajahnya. Banyak orang baru menyadari bahwa rasa aman mereka selama ini bukan berasal dari keberanian, melainkan dari cahaya yang terus menyala.
Hari Kedua: Ketika Uang Kehilangan Tubuh
Memasuki hari ketiga, ilusi mulai runtuh. Uang digital yang selama ini terasa nyata mendadak tak bisa disentuh. ATM mati, kartu tak bisa digesek, aplikasi pembayaran hanya ikon kosong. Angka-angka di rekening bank tetap ada, tetapi tak lagi memiliki daya beli.
Toko-toko tutup bukan karena kehabisan barang, melainkan karena tak bisa bertransaksi. Mesin kasir mati, timbangan digital tak berfungsi, dan sistem distribusi terhenti. Sinyal telepon menghilang ketika baterai menara pemancar habis.
Di titik ini, manusia modern mulai berhadapan dengan kenyataan pahit: hampir tidak ada cadangan hidup. Air bergantung pada pompa. Makanan bergantung pada pasokan harian. Bahkan memasak nasi tak lagi mudah tanpa gas atau listrik. Selama ini kita hidup dalam sistem yang diasumsikan selalu tersedia.
Keruntuhan pada tahap ini belum berupa kekacauan terbuka. Ia lebih menyerupai kebingungan kolektif, kesadaran bahwa kebiasaan lama tak lagi relevan sementara kebiasaan baru belum sempat dipelajari.
Baca Juga: Cara Gus Dur Memeluk Kita
Minggu Pertama: Ketika Naluri Mulai Berbicara