Satu minggu berlalu. Kota mulai berbau. Sampah menumpuk, limbah meluap, air bersih menghilang. Penyakit mengintai di ruang-ruang padat yang tak lagi memiliki sistem sanitasi.
Rasa lapar mengubah cara manusia memandang sesamanya. Solidaritas yang semula muncul perlahan terkikis oleh kebutuhan paling dasar. Gudang makanan didobrak, toko dijarah, dan aturan hukum kehilangan daya tekan. Dalam kondisi ini, sebagian orang masih berusaha bertahan pada nilai lama, sementara sebagian lain memilih jalan pintas.
Naluri dasar yang lama ditekan oleh kenyamanan kota perlahan muncul ke permukaan. Air bersih menjadi lebih berharga daripada emas, saham, atau aset kripto. Tubuh manusia kembali menjadi pusat perhitungan: apa yang bisa dimakan, diminum, dan dipertahankan hari ini.
Simulasi ini memperlihatkan bahwa peradaban modern mungkin bukan bangunan kokoh, melainkan lapisan tipis yang mudah terkelupas ketika kebutuhan dasar tak lagi terpenuhi.
Minggu Kedua: Kota Sebagai Perangkap
Memasuki minggu kedua, kota besar berubah menjadi ruang yang berbahaya. Apartemen-apartemen tinggi menjelma penjara vertikal: panas, gelap, dan pengap. Tangga menjadi satu-satunya akses, air tak lagi mengalir ke lantai atas, dan bau kematian mulai terasa.
Terjadi eksodus besar-besaran. Ribuan orang berjalan kaki meninggalkan kota, membawa apa pun yang masih bisa dipikul. Jalanan dipenuhi manusia yang dulu percaya bahwa hidup modern tak tergantikan.