opini

Protokol Nol: Peradaban yang Berdiri di Atas Sakelar

Kamis, 1 Januari 2026 | 02:26 WIB




Simulasi ini menunjukkan satu hal yang jarang kita akui: kemajuan modern membuat manusia sangat efisien, tetapi juga sangat rapuh. Kita merasa maju bukan karena kuat, melainkan karena sistem bekerja tanpa henti. Ketika sistem itu berhenti, kita kebingungan karena terlalu lama menyerahkan keterampilan dasar kepada mesin.





Masalahnya mungkin bukan pada teknologi, melainkan pada cara kita memperlakukannya sebagai pengganti, bukan alat. Kita memindahkan ingatan ke server, kearifan ke algoritma, dan daya hidup ke tombol-tombol. Ketika tombol itu mati, kita panik karena lupa bahwa tangan manusia pernah bisa menanam, api pernah bisa dinyalakan, dan kebersamaan pernah tumbuh tanpa sinyal.





Peradaban besar tidak membutuhkan bencana kosmik untuk runtuh. Ia hanya membutuhkan satu sebab kecil yang merusak sakelar utama, lalu membiarkan manusia cukup lama berada dalam gelap hingga ia dipaksa bernegosiasi ulang dengan dirinya sendiri.





Apakah ini berarti kita harus menolak kemajuan? Tidak. Pertanyaannya lebih jujur dan lebih sulit: apakah kita masih merawat kemampuan dasar agar tetap berdaulat di tengah sistem apa pun? Ataukah kita sepenuhnya menjadi tawanan dari kenyamanan yang kita ciptakan sendiri?





Pertanyaan itu layak direnungkan setiap kali lampu menyala di rumah kita malam ini.





 


Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB