opini

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB



Satirnya begini: negara selalu menyebut dirinya “kita”. Tetapi saat tagihan datang, “kita” berubah menjadi “kalian”. Dan ketika laporan pertanggungjawaban ditanya, “kita” kembali menjadi entitas yang abstrak dan jauh.






Dalam tradisi kita, pemimpin disebut pamong, pengasuh. Ia memungut bukan untuk menumpuk, tetapi untuk mengembalikan dalam bentuk kesejahteraan yang nyata. Jika pungutan melampaui kemampuan dan hasilnya tak kembali, itu bukan lagi pamong, melainkan feodalisme dengan wajah administrasi modern.





Maka yang perlu dikutuk bukan pajaknya, melainkan kerakusan dan kebutaan moral yang menyertainya. Pemungutan berlebih tanpa empati adalah bentuk ketidakadilan struktural. Ia sah secara hukum, tetapi bisa cacat secara nurani.





Rakyat tidak menolak berkontribusi. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai sumber pendapatan berjalan. Mereka ingin melihat bahwa setiap rupiah yang keluar dari saku mereka benar-benar kembali dalam bentuk jalan yang layak, sekolah yang hidup, pelayanan yang jujur.





Negara yang tidak mampu memahami rakyatnya akan terus berbicara tentang pembangunan, tetapi kehilangan makna kehadiran. Dan rakyat yang terus dipungut tanpa didengar akan belajar mencintai tanahnya sambil menjaga jarak dari negaranya.





Di situlah ujian bersama kita: apakah negara mau merendahkan diri untuk belajar mendengar, atau terus meninggikan diri dengan angka-angka? Karena pada akhirnya, legitimasi tidak dibangun oleh tarif, tetapi oleh keadilan.


Halaman:

Tags

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB