“Penurunan ini tentu berdampak pada banyak rencana pembangunan desa. Karena itu, penguatan usaha ekonomi desa menjadi solusi yang harus dipercepat,” jelasnya.
Ia menyebut, optimalisasi koperasi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih, menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat PADes dan menopang pembiayaan desa ke depan.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Kepala Desa Kabupaten Kendal, Suyoto, mengakui bahwa banyak program fisik terpaksa ditunda akibat keterbatasan anggaran. Meski begitu, pelayanan dasar kepada masyarakat dipastikan tetap berjalan.
“Kami sekarang fokus skala prioritas. Pembangunan sarpras kemungkinan ditunda, tapi pelayanan kepada warga tetap menjadi kewajiban utama,” katanya.
Ia mencontohkan, Dana Desa yang diterima Desa Margorejo turun dari sekitar Rp700 juta pada 2025 menjadi sekitar Rp250 juta di 2026.
“Semoga ke depan kondisi anggaran membaik. Tapi saat ini desa harus kuat dan mandiri menghadapi situasi,” pungkasnya.