Warga juga menyoroti perubahan kondisi air ketika pintu air bendungan di sebelah selatan dibuka.
Air disebut dapat berubah menjadi hitam dan terkadang menimbulkan bau.
Situasi tersebut semakin menjadi perhatian karena banjir disebut sudah berulang kali terjadi di kawasan permukiman sekitar sungai.
Agus mengungkapkan warga telah menghadapi persoalan banjir selama hampir lima tahun. Bahkan, air disebut dapat masuk ke rumah dan bertahan selama beberapa hari.
Baca Juga: Timnas Indonesia Punya 2 Debutan Naturalisasi di FIFA ASEAN Cup 2026, Vickery dan Markx Siap Unjuk GigiBaca Juga: Timnas Indonesia Punya 2 Debutan Naturalisasi di FIFA ASEAN Cup 2026, Vickery dan Markx Siap Unjuk Gigi
"Sudah lama, bertahun-tahun, hampir lima tahun. Tiap tahun langganan banjir masuk rumah," kata Agus.
Dampak genangan tidak hanya dirasakan warga. Lingkungan sekolah yang berada di sekitar kawasan tersebut juga ikut terdampak ketika banjir terjadi.
Warga Desak Ada Pengerukan
Warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan pembersihan sampah secara berkala. Menurut mereka, pengerukan dasar sungai juga diperlukan untuk mengurangi sedimentasi dan memperlancar aliran air.
"Harapannya ya caranya dikeruk lah. Biar lancar airnya," ujar Agus.
Faris menilai kondisi musim kemarau dapat menjadi momentum untuk melakukan pengerukan.
Debit air yang lebih rendah dinilai dapat memudahkan proses penanganan sedimentasi di dasar sungai.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 19 September 2026 Naik, 1 Gram Tembus Rp2,66 Juta
Persoalan Kali Patebon kini menjadi pekerjaan yang membutuhkan penanganan menyeluruh. Sampah yang menumpuk perlu dibersihkan, sementara sedimentasi yang membuat dasar sungai semakin tinggi juga perlu mendapat perhatian.
Bagi warga, sungai yang kembali memiliki aliran lancar bukan hanya soal kebersihan lingkungan.
Mereka berharap langkah tersebut dapat mengurangi ancaman banjir yang selama bertahun-tahun menghantui permukiman di sekitar Sungai Kendal.