Di tengah kekacauan itu, aku bukan hanya sedang mencari kunci, tapi aku sedang memohon pada waktu agar tidak berjalan terlalu cepat. Aku merasa hina di antara barang-barang yang berserakan, hanya demi menahan seseorang yang hatinya sudah tidak lagi di sini.
Dan akhirnya, di antara debu dan keputusasaan, jemariku menyentuh logam dingin itu. Kuncinya ketemu.
Aku berdiri dengan tubuh lemas. Tidak ada lagi sisa tenaga untuk memohon. Dengan tangan bergetar, kuserahkan kunci itu kepadanya. Aku tidak berkata apa-apa. Aku menyerahkan sepenuhnya kendali pintu itu ke tangannya.
Jika dia masih bersikeras untuk melangkah keluar, aku sudah tidak punya lagi alasan untuk menghalangi.
"Pergilah," bisikku dalam hati, meski jiwaku menjerit sebaliknya.
Aku hanya minta satu hal pada semesta:Jangan biarkan aku melihat punggungnya saat ia melangkah menjauh.
Aku tidak sanggup menyaksikan detik-detik saat dia menghilang dari pandangan. Biarkan saja aku terjaga di sudut lain. Lalu, biarlah saat aku menoleh nanti, ia sudah tidak ada. Tanpa tahu kapan tepatnya ia melangkah, tanpa tahu lewat mana ia pergi.
Biarkan aku menutup mata, dan ketika aku membukanya nanti, aku hanya perlu belajar satu hal yang paling sulit: "Bagaimana cara mencintai sebuah rumah yang kini telah kosong, dingin, dan tak lagi berpenghuni".