OPINI, inspiratifonline.com - Indonesia dengan reputasi keramahan dan kekayaan intelektualnya, menarik ribuan pelajar internasional setiap tahun. Namun, di balik janji akademik, mereka segera dihadapkan pada realitas tak terduga: anarki di jalan raya. Pengalaman ini bukan sekadar culture shock, tetapi krisis etika sosial yang secara langsung mengancam keamanan fisik dan psikologis para tamu terhormat ini.
Mahasiswa asing, yang terbiasa dengan sistem lalu lintas yang tertib, harus menghadapi "budaya mendahului" di mana aturan lalu lintas hanya dianggap dekorasi dan keselamatan pribadi menjadi komoditas langka.
Inti permasalahan terletak pada filosofi berkendara yang didominasi oleh egoisme dan sense of entitlement. Di banyak persimpangan, lampu merah dipandang bukan sebagai perintah, melainkan sebagai penundaan yang boleh dilanggar jika situasi memungkinkan terutama tanpa pengawasan aparat. Melawan arus, memotong jalur tanpa isyarat, dan mengabaikan hak pejalan kaki di zebra cross sudah dianggap sebagai manuver yang sah dalam menghadapi kemacetan. Sikap permisif ini, di mana kesalahan individu menjadi kelaziman kolektif, telah melahirkan apa yang disebut mahasiswa asing sebagai "kekacauan lalu lintas tanpa aturan."
Mereka menyaksikan hak-hak dasar pengguna jalan yang lemah (pejalan kaki dan pengendara sepeda) secara rutin diinjak-injak oleh pengendara motor dan mobil, menimbulkan rasa frustrasi dan keputusasaan.
Dampak psikologis bagi para pelajar internasional ini sangat signifikan. Mereka sering melaporkan perasaan terisolasi, kecemasan akut, dan paranoia setiap kali harus meninggalkan area aman kampus. Studi menunjukkan bahwa kesulitan beradaptasi dengan lalu lintas yang kacau memicu stres yang mengganggu fokus akademis dan kesehatan mental mereka. Keengganan mereka untuk menyewa skuter sendiri atau berjalan kaki di luar trotoar yang rusak bukan karena manja, melainkan karena naluri bertahan hidup yang dipicu oleh risiko kecelakaan yang nyata dan berulang. Kekacauan lalu lintas ini menjadi indikator gamblang bahwa Indonesia, meskipun kaya akan nilai-nilai luhur, memiliki kegagalan fundamental dalam mengatur kedisiplinan publik di ruang vital kehidupan sehari-hari.
Kisah-kisah frustrasi dari bangku pelajar internasional adalah dakwaan yang harus didengarkan, dan fenomena ini tersebar luas di lingkungan kampus penerima program pertukaran. Keluhan mereka menunjukkan konsensus yang sama. Sebagaimana ditekankan dalam sebuah artikel mengenai etika dan keterampilan berkendara di Indonesia, "Pelanggaran lalu lintas adalah budaya di negeri ini dan pengendara roda dua merupakan ancaman bagi pengguna jalan lainnya." (Dikutip dari: Analisa Etika dan Keterampilan Terhadap Tingkat Pelanggaran Lalu Lintas (Roda Dua) di Indonesia, Jurnal Sosial dan Sains).