Pernyataan ini menunjukkan bahwa masalah ini telah melampaui masalah teknis; ia menjadi cerminan krisis moral yang membuat tamu-tamu terhormat kita mempertanyakan keseriusan kita dalam menjamin keselamatan. Lebih menyedihkan lagi, kasus yang sering dilaporkan adalah mengenai perubahan perilaku drastis. Seorang mahasiswa program pertukaran dari Korea Selatan, misalnya, harus menunda studinya selama satu semester penuh setelah mengalami insiden nyaris tertabrak keras saat menyeberang jalan tepat di depan kampus, sebuah peristiwa yang ia ceritakan sebagai "pukulan telak terhadap kepercayaan saya pada sistem di sini dan kemampuan negara ini melindungi pendatangnya."
Kejadian traumatis ini membuktikan bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh rendahnya etika berkendara kita bersifat nyata, fisik, dan berdampak pada masa depan akademik para mahasiswa asing.
Dalam mengakhiri babak yang memalukan ini dan berhenti menjadikan mahasiswa asing sebagai korban ketiadaan etika di jalan, diperlukan tindakan tegas yang fokus pada perubahan perilaku dan sistem secara simultan.Langkah pertama yang paling mendesak adalah revolusi total pada Sistem Tilang Elektronik (E-TLE).
Kita harus memperluas cakupan E-TLE hingga ke sudut-sudut kota terkecil dan menerapkan denda yang tidak hanya tegas tetapi juga berlipat ganda bagi pelanggar berulang, tanpa ada ruang negosiasi, guna mengembalikan rasa hormat pada hukum yang hilang. Hukum harus dirasakan ada, tidak hanya saat ada petugas.
Kedua, kita harus melakukan reformasi masif kurikulum SIM, menjadikan ujian etika dan kesadaran sosial sebagai syarat mutlak lulus; fokus harus bergeser dari sekadar kemampuan teknis mengemudi menjadi kedewasaan dan empati berkendara. Terakhir, pemerintah kota dan pihak kampus harus bekerja sama secara proaktif untuk mengamankan ‘Zona Ramah Internasional’ dengan memperbaiki dan memprioritaskan jalur pejalan kaki serta transportasi non-motor di sekitar wilayah universitas yang banyak dihuni mahasiswa asing.
Langkah konkret ini akan menjadi sinyal jelas kepada dunia: Indonesia bukan hanya negara yang ramah, tetapi juga negara yang teratur, beradab, dan memegang teguh keselamatan di setiap jengkal wilayahnya.
Biografi Penulis
Naela Cahya, lahir di Brebes pada 9 Januari 2006. Saat ini, saya merupakan mahasiswa aktif semester 3 di UIN Raden Mas Said Surakarta. Berbekal ketertarikan yang mendalam pada dunia literasi, saya secara konsisten menyalurkan minat saya dalam menulis serta menyampaikan gagasan atau opini mengenai isu-isu aktual, khususnya yang relevan dengan perspektif generasi muda.