Panggung sejarah dan daftar orang terkaya di dunia sering kali tidak diisi oleh mereka yang paling cerdas di kelasnya, bukan pula oleh mereka yang paling banyak mencucurkan keringat, atau paling rajin di antara yang rajin.
Panggung itu justru sering diduduki oleh orang-orang yang secara atribut tampak “biasa saja”, tetapi memiliki satu faktor yang tak bisa dibeli: keberuntungan.
Protokol Nol: Peradaban yang Berdiri di Atas Sakelar
Dunia Tanpa Keberuntungan
Mari membayangkan sebuah dunia yang murni berjalan di atas rel sebab-akibat tanpa campur tangan keberuntungan. Sebuah dunia yang sepenuhnya meritokratis.
Dalam dunia semacam itu, keadilan terasa mekanis dan dingin. Mereka yang bekerja 20 jam sehari otomatis lebih kaya dari yang bekerja delapan jam. IQ tinggi pasti berbanding lurus dengan kesuksesan. Kedisiplinan menjadi ukuran tunggal nilai manusia.
Namun, dalam dunia seperti itu, martabat manusia akan runtuh. Orang miskin dianggap pasti pemalas. Orang gagal dicap pasti bodoh. Kesalahan selalu dituduhkan sebagai kelalaian pribadi.
Kenyataannya, dunia tidak berjalan demikian. Keberuntungan hadir sebagai variabel yang meruntuhkan kesombongan manusia. Tanpanya, manusia mudah merasa menjadi tuhan bagi nasibnya sendiri, mengultuskan sub-sebab, dan melupakan sebab utama.