• Selasa, 22 September 2026

Paradox Sang Pemenang: Mengapa Keberuntungan Menumbangkan Kegeniusan?

Photo Author
Danang Afi, InspiratifOnline.com
- Sabtu, 3 Januari 2026 | 15:04 WIB



Panggung sejarah dan daftar orang terkaya di dunia sering kali tidak diisi oleh mereka yang paling cerdas di kelasnya, bukan pula oleh mereka yang paling banyak mencucurkan keringat, atau paling rajin di antara yang rajin.





Panggung itu justru sering diduduki oleh orang-orang yang secara atribut tampak “biasa saja”, tetapi memiliki satu faktor yang tak bisa dibeli: keberuntungan.





Protokol Nol: Peradaban yang Berdiri di Atas Sakelar





Dunia Tanpa Keberuntungan





Mari membayangkan sebuah dunia yang murni berjalan di atas rel sebab-akibat tanpa campur tangan keberuntungan. Sebuah dunia yang sepenuhnya meritokratis.





Dalam dunia semacam itu, keadilan terasa mekanis dan dingin. Mereka yang bekerja 20 jam sehari otomatis lebih kaya dari yang bekerja delapan jam. IQ tinggi pasti berbanding lurus dengan kesuksesan. Kedisiplinan menjadi ukuran tunggal nilai manusia.





Namun, dalam dunia seperti itu, martabat manusia akan runtuh. Orang miskin dianggap pasti pemalas. Orang gagal dicap pasti bodoh. Kesalahan selalu dituduhkan sebagai kelalaian pribadi.





Kenyataannya, dunia tidak berjalan demikian. Keberuntungan hadir sebagai variabel yang meruntuhkan kesombongan manusia. Tanpanya, manusia mudah merasa menjadi tuhan bagi nasibnya sendiri, mengultuskan sub-sebab, dan melupakan sebab utama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Danang Afi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Negara Bukan Orang Kaya yang Sedang Berbaik Hati

Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:34 WIB

Sungkeman : Bid’ah Cinta Dari Jawa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:41 WIB

Negara Kononasu; Pajak dan Bala Pungutannya

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:57 WIB

Suara Perempuan: Ramai Saat Pemilu, Sepi Setelahnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:18 WIB

Seduhtama Sawah Jati: Sunyi yang Berbunyi

Sabtu, 7 Februari 2026 | 03:25 WIB

Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Minggu, 18 Januari 2026 | 01:05 WIB

Menempatkan Politik Secara Proporsional

Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:27 WIB

Merayakan Isra Mi’raj di Tengah Banjir Kendal

Jumat, 16 Januari 2026 | 03:27 WIB

Sarjana Kertas: Gelar Tinggi Empati Rendah, kok bisa?

Kamis, 15 Januari 2026 | 13:54 WIB
X