Opini, Inspiratifonline.com - Sejak kecil, kita disuapi doktrin aneh bahwa dunia adalah sebuah mesin hitung yang adil: input (kerja keras) + proses (kegeniusan) = output (kesuksesan).
Namun, jika kita berani melihat realitas dengan mata telanjang, mesin itu sering kali rusak. Tuhan menciptakan mesin itu dengan ketidaksempurnaan agar hakikat nampak, bahwa hanya Tuhan yang sempurna.
Kita melihat si jenius yang meredup di sudut kantor. Si pekerja keras yang hanya cukup untuk makan esok hari atau membayar utang bulanan. Si rajin belajar yang tak kunjung mendapat beasiswa atau kesempatan emas lainnya.
Namun, di sisi lain, seseorang yang “biasa saja” justru melesat ke puncak piramida ekonomi.
Mengapa sub-sebab Tuhan seperti kerja keras, kegeniusan, dan sikap rajin sering kali kalah telak oleh satu variabel bernama keberuntungan, yang kerap dipahami sebagai sebab utama atau kausa prima?
Dalam setiap pemaparan informasi, kita selalu dijejali narasi yang hampir seragam:
“Bekerja keraslah, berikan 100 persen perhatianmu, jadilah yang paling rajin, paling pintar, atau paling tekun, maka dunia akan bertekuk lutut di bawah kakimu.”
Narasi itu dikenal sebagai meritokrasi, keyakinan bahwa kesuksesan adalah upah langsung dari keunggulan personal.
Namun, jika kita berani keluar dari ruang teori dan menatap realitas sehari-hari, kita akan menemukan fakta yang dingin dan sulit dibantah: dunia tidak pernah sepenuhnya bekerja seperti itu.