Baca Juga: Amerika Serikat: Di Tengah Bayang Dunia dan Pax Judaica
Mengapa Gen Z Menjauh dari Politik Formal
Ada beberapa faktor struktural yang menjelaskan renggangnya hubungan Gen Z dengan politik formal di Indonesia.
Pertama, krisis kepercayaan. Korupsi yang berulang dan janji kampanye yang jarang terealisasi melahirkan sinisme. Bagi banyak anak muda, siapapun yang menang pemilu, realitas hidup tetap sama: biaya hidup naik, lapangan kerja sempit, dan kepemilikan rumah terasa mustahil.
Kedua, komunikasi politik yang kaku dan usang. Bahasa politisi sering formal, menggurui, dan lambat. Di era TikTok dan Instagram yang serba singkat dan visual, narasi politik terasa seperti kaset rusak yang diputar berulang.
Ketiga, polarisasi yang toksik. Sejak beberapa pemilu terakhir, politik berubah menjadi arena pertengkaran permanen. Bagi Gen Z yang sangat menghargai kesehatan mental, tarik-ulur konflik ideologis yang agresif terasa melelahkan dan tidak produktif.
Keempat, krisis representasi. Gen Z jarang melihat dirinya terwakili secara substantif dalam kepemimpinan politik. Kebijakan sering dirumuskan tanpa melibatkan perspektif anak muda, membuat politik terasa sebagai sesuatu yang terjadi pada mereka, bukan oleh mereka.
Baca Juga: Ancaman Tersembunyi “Cyber Algorithma” pada Negeri Ini
Bahaya Apatisme yang Diremehkan
Apatisme politik bukan tanpa konsekuensi. Ketika mayoritas anak muda memilih golput atau bersikap masa bodoh, ruang pengambilan keputusan akan terus didominasi kepentingan generasi lama.