Akibatnya, isu-isu krusial masa depan seperti keamanan siber, ekonomi gig, transisi energi, dan ketidakstabilan global akan selalu berada di pinggir anggaran dan prioritas.
Ketidakpedulian, dalam konteks ini, menjadi cek kosong bagi kekuasaan untuk berjalan tanpa pengawasan dari generasi yang justru akan menanggung dampaknya paling lama.
Dari Apatis ke Strategis
Jika politik Indonesia ingin kembali relevan, perubahan tidak bisa bersifat kosmetik. Politik tidak cukup hadir lima tahun sekali dalam bentuk baliho dan slogan.
Pertama, pendidikan politik harus dibumikan. Bukan sekadar hafalan lembaga negara, melainkan pemahaman bahwa politik adalah alat untuk mengubah kondisi hidup sehari-hari.
Kedua, digitalisasi birokrasi harus dipercepat. Bagi generasi digital, partisipasi politik yang rumit dan berbelit adalah penghalang, bukan tantangan.
Ketiga, ruang dialog perlu disetarakan. Politik perlu berhenti berbicara dari podium dan mulai mendengar dari lingkaran-lingkaran kecil: kedai kopi, forum daring, dan ruang diskusi tanpa protokol kaku.
Masalahnya Bukan Gen Z, Tapi Sistemnya
Gen Z Indonesia bukan generasi yang tidak peduli. Mereka justru sangat peduli, namun sangat skeptis. Mereka adalah generasi paling terinformasi dalam sejarah, sekaligus yang paling sadar akan kebohongan.