YOGYAKARTA, inspiratifonline.com — Kematian seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali membuka luka lama persoalan akses pendidikan dan kemiskinan struktural di Indonesia.
Anak berinisial YBR (10), siswa kelas IV SD negeri, diduga mengakhiri hidupnya setelah tekanan ekonomi membuat keluarganya tak mampu memenuhi kebutuhan sekolah paling dasar.
Peristiwa tragis itu menjadi sorotan luas karena terjadi di lembaga pendidikan negeri.
YBR diketahui masih dibebani pungutan biaya sekolah hingga Rp1,22 juta per tahun yang harus dicicil.
Orang tua korban baru mampu membayar Rp500 ribu pada semester pertama, sementara sisa Rp720 ribu belum terpenuhi.
Keterbatasan ekonomi membuat YBR kesulitan membeli buku tulis dan pulpen untuk mengikuti kegiatan belajar.
Kasus tersebut menuai reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menilai tragedi ini sebagai bukti nyata kegagalan negara dalam melindungi hak dasar anak.