Tempe dipilih karena merupakan bahan pangan yang mudah dijumpai dan dapat diolah menjadi beragam produk.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diajak melihat tempe tidak hanya sebagai bahan makanan untuk konsumsi keluarga, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi produk usaha.
Harapannya, keterampilan tersebut bisa diterapkan setelah pelatihan selesai. Dari dapur rumah, produk bisa dikembangkan bersama kelompok hingga memiliki kemasan dan pemasaran yang lebih baik.
Bupati: Perempuan Punya Potensi Besar Kembangkan Ekonomi Keluarga
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan penguatan ekonomi keluarga menjadi salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, peningkatan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan pemerataan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan perlindungan sosial.
Baca Juga: Kenapa Niat Tidur Cepat Malah Berakhir Scroll Sampai Tengah Malam? Ini Penyebabnya
Dalam konteks keluarga, perempuan dinilai memiliki peran yang cukup besar. Selain menjalankan aktivitas rumah tangga, perempuan juga dapat mengembangkan keterampilan menjadi kegiatan produktif yang menghasilkan nilai ekonomi.
“Keterampilan bagi para perempuan sangat dibutuhkan agar dapat tercapai kemandirian yang mampu menjaga ketahanan ekonomi, sehingga kesejahteraan keluarga dapat tercapai,” ujar Dyah Kartika.
Ia mengatakan potensi perempuan sebagai pelaku usaha kreatif masih sangat terbuka. Apalagi banyak daerah memiliki bahan pangan maupun potensi lokal yang bisa diolah menjadi produk bernilai tambah.
Namun, menurutnya, masih terdapat perempuan di wilayah perdesaan yang belum mendapatkan akses yang cukup terhadap pelatihan keterampilan produktif.
Baca Juga: Barcelona Pesta 7 Gol ke Gawang Racing Santander, Raphinha Jadi Bintang
“Dalam realitas sosial, perempuan tidak hanya berperan sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pelaku usaha kreatif. Namun demikian, masih banyak perempuan desa yang belum memiliki akses terhadap pelatihan keterampilan produktif yang bernilai ekonomi,” tuturnya.
Karena itu, Dyah Kartika berharap pelatihan semacam ini tidak berhenti pada kegiatan praktik sehari. Peserta diharapkan mendapatkan pendampingan lanjutan sehingga produk yang dibuat dapat terus dikembangkan.
Mulai dari kualitas rasa, inovasi produk, desain kemasan, hingga strategi pemasaran menjadi bagian yang menurutnya perlu diperhatikan agar usaha perempuan dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Artikel Terkait
Di Balik Julukan Kota Santri, Ada Jejak Gelap Masa Lalu Kaliwungu yang Dibongkar Lewat Buku Ini
Pengawalan Diperkuat, 7 Warga Binaan Lapas Kendal Digeser ke Plantungan
Sidang Perdana Roy Suryo Digelar 17 September 2026, Dakwaan Mulai Dibacakan
Kamis 17 September 2026, Cek Harga Emas Pegadaian: Antam, UBS dan Galeri 24
Belanjaan Raib di Parkiran, CCTV Ungkap Gerak-gerik Wanita Berbaju Kotak-kotak
Barcelona Pesta 7 Gol ke Gawang Racing Santander, Raphinha Jadi Bintang
Membangun Budaya Kolaborasi Sekolah melalui Pemanfaatan Komunitas Belajar di PAUD
Kenapa Niat Tidur Cepat Malah Berakhir Scroll Sampai Tengah Malam? Ini Penyebabnya
Cara Cek Desil NIK Bansos 2026 Online Lewat HP, Begini Langkah Mudahnya
Menelusuri Jejak Pendidikan Kendal, dari Pesantren hingga Sekolah Rakyat